Bagi penduduk Eropa atau Amerika, ciuman terasa seperti hal yang dianggap alami. Kita mengecilkan saat bertemu, sebagai tanda sambutan, tanda cinta, dan tanda penghujung. Kita sulit memikirkan bahwa di tempat lain, tindakan ini bukan hanya tidak diterima, tetapi dapat menyebabkan kekhawatiran, kegangguan, atau bahkan marah. Walaupun demikian, kajian yang mencakup 168 budaya di dunia menunjukkan bahwa ciuman romantis hanya di praktikkan di 46% darinya. Di bagian lain daripada dunia, orang menghindari hal ini — baik disebabkan adat budaya, aturan keagamaan yang ketat, atau hanya karena mereka tidak tahu tentang hal ini. Ciuman bukan bahasa cinta universal. Ini konstrukt budaya, dan di banyak bagian dunia, ia atau tabu dengan ketat.
Pemahaman yang paling keras berlaku di negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan, di mana norm Islam mengatur bukan hanya kehidupan pribadi, tetapi juga kehidupan masyarakat. Di Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Iran, Qatar, dan Afghanistan, ciuman publik antara pria dan wanita bukan hanya pelanggaran etika, tetapi kejahatan pidana. Dalam UAE, ciuman di tempat publik dapat mendapatkan hukuman penjara hingga sepuluh hari. Di Iran dan UAE, ciuman publik dapat menghadapi penjara berbulan-bulan. Di negara konservatif seperti Afghanistan dan Pakistan, ciuman publik dianggap tidak mungkin.
Namun demikian, di negara-negara Arab, ciuman sambutan antara pria adalah hal yang biasa. Tetapi ciuman dengan jenis kelamin yang berlawanan adalah tabu yang mutlak. Bahkan di pernikahan, suami hanya mencium istri di dahi, bukan di bibir. Di Turki, yang dianggap negara yang lebih sekuler, ciuman sambutan antara pria dan wanita juga tidak diterima, dan ciuman di bibir di tempat publik tidak diterima di mana saja dan kapan saja.
Di Asia, pengertian tentang ciuman beragam, dari larangan yang ketat hingga kekurangan pengetahuan. Di Jepang dan Cina, ciuman publik, bahkan di wajah, dianggap pelanggaran ruang pribadi dan dianggap tidak diterima. Di Jepang modern, ciuman di hadapan saksi dianggap sangat tak hormat. Ini adalah alasan kenapa anda hampir tidak akan melihat ciuman di film Jepang. Jepang, jika dan ciuman, hanya melakukan ini di jarak satu langkah, dengan merendam bibir dengan bibir pasangan, tanpa membuka mulut.
Di India, negara yang memberikan dunia \"Kamasutra\" dengan 30 jenis ciuman, ciuman publik tetap tabu. Ciuman di India dianggap ekspresi seksualitas yang terlalu terbuka. Bahkan di film Bollywood, ciuman dianggap unik dan tidak disetujui — cinta dianggap dengan tari. Di Thailand, Vietnam, dan India, ciuman publik dan tangis berada di bawah larangan yang ketat.
Di beberapa budaya Asia, ciuman sendiri sama sekali tidak ada. Suku yang tinggal di timur Bangladesh, daripada mengatakan \"ciuman saya\", mereka mengatakan \"nafsu saya\". Cina, saat bertemu, menggigit hidung atau menjalankan hidung mereka melintasi wajah yang lain. Di Korea dan Singapura, sambutan dihadapkan dengan penatangan yang ringan.
Di beberapa budaya yang terisolasi, ciuman di bibir dianggap asing dan bahkan mengejutkan. Penduduk Tasmania, Papua New Guinea, serta penduduk pulau Fuga di Filipina saat bertemu memegang objek yang mengeluarkan bau yang menyenangkan di dekat hidung atau di atas kepala. Di pulau Socotra di pantai Somalia, dianggap untuk mencium satu sama lain di lengan. Di pulau Tonga, saat bertemu, memegang tangan pasangan dan merentang hidung dan mulut mereka. Di Pulau Kerajaan, sambutan dihadapkan dengan mendekati satu sama lain dengan dekat dan merentang hidung mereka satu sama lain. Aborigin New Zealand saat bertemu menyembunyikan satu sama lain dengan selimut dan menggigit hidung, mengeluarkan suara yang mirip dengan kucing.
Bahkan di wilayah yang mengenali ciuman, penggunaannya dapat dihadapi dengan ketat. Di Eropa Utara — Swedia, Denmark, Norwegia, dan Finlandia — untuk sambutan cukup dengan tangan yang disentuh atau kwick. Di Jerman, ciuman sosial tidak diterima, hanya di antara teman. Di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, ciuman di wajah diterima hanya di antara teman dekat, dan di lingkungan resmi dihadapi dengan penghentian tangan. Di Amerika, simbol sambutan untuk orang terdekat, dan tangan yang disentuh dan senyum yang luas adalah cara paling universal untuk sambutan siapa saja.
Namun demikian, di Amerika Latin, ciuman di wajah saat bertemu dianggap hal yang normal, meskipun di beberapa budaya di Amerika Latin, ciuman romantis sama sekali tidak di praktikkan.
Alasan pengertian yang berbeda tentang ciuman ini berada di dalam agama, sejarah, dan nilai budaya. Di negara-negara Islam, ciuman antara pria dan wanita di tempat publik dianggap tindakan yang terlalu intim, yang mengkhianati moral masyarakat. Di India, ciuman di Hinduisme simbolis kosmik penggabungan polar yang berlawanan antara pria dan wanita, dan karena itu terlalu sakral untuk dipamerkan di publik. Di beberapa budaya Afrika dan Asia, ciuman sama sekali belum diciptakan — orang mengekspresikan perasaan mereka melalui sentuhan hidung, merentang wajah, atau pertukaran bau. Di tempat lain, seperti di Eropa abad pertengahan, ciuman di larang karena takut terhadap bubaria.
Ciuman bukan bahasa universal, tetapi dialek budaya. Di satu negara ia adalah tanda persahabatan, di negara lain ia adalah kejahatan, di negara lain ia adalah ritual yang tak dikenal. Saat berlibur di dunia, ingat: yang alami bagi kami dapat dianggap pelanggaran atau tak dapat diertikan untuk orang lain. Sebelum menarik bibir untuk sambutan, lebih baik tahu bagaimana orang di negara itu menyambut. Akhirnya, penghormatan bagi tradisi yang berbeda adalah seperti ciuman: tak berbicara, tetapi yang asli.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of Malaysia ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.MY is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving Malaysia's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2