Pelita adalah burung yang sukar untuk tak dilihat. Bocornya, yang membuka seperti pita biru-hijau dengan mata, mempesona dan inspirasi. Di belakang keindahan ekstravagansinya ada sebatas kandungan semantik budaya yang menumpuk berabad-abad. Dalam satu budaya, pelita adalah simbol keabadian dan perlindungan dewa, dalam budaya lain, ia adalah kekayaan dan kebanggaan. Ia keduanya kudus dan dosa, langit dan bumi. Bagaimana burung yang satu ini dapat menampung kontras yang demikian? Dan apa yang artinya pelita di kod budaya global saat ini?
Sebelum berbicara tentang simbol, perlu diingat bahwa pelita bukan hanya "burung dengan ekor indah". Ada dua jenis utama di dunia: pelita biru India (burung nasional India) dan pelita hijau, yang berada di Asia Tenggara. Betina memiliki ekor yang lebih kecil dan menarik, tetapi masih menarik. Pelita hidup di hutan, makan biji, buah dan serangga. Tetapi ia menjadi simbol bukan karena khasiat biologisnya, tetapi karena kemampuannya untuk menimbulkan kagum yang hampir mistis.
Di India, pelita bukan hanya burung yang indah, tetapi wujud suci. Ia dihubungkan dengan dewa perang Sakti (Kartikeya), yang mengendarai pelita, dan dewa Krishna, yang menghiasi kepala dengan ekor pelita. Dalam ikonografi Hindu, pelita simbol kemenangan atas ular dan racun — disebutkan bahwa ia memakan ular dan melindungi dari kejahatan.
Dalam Budhaisme, pelita adalah simbol kasih sayang dan kebijaksanaan. Ekornya dihubungkan dengan mata Buddha, yang melihat semua kesengsaraan dunia. Kemampuan pelita untuk memakan ular beracun dan mengubahnya menjadi ekor yang indah diartikan sebagai kemampuan untuk mengubah emosi negatif menjadi pemikiran yang cerdas. Di Budhaisme Tibet, pelita sering di gambarkan sebagai penjaga Boddhisattva Avalokiteshvara.
Tradisi Kristen menerima pelita dengan arti yang berbeza. Dari satu sisi, pelita menjadi simbol keabadian dan kembalinya. Disebutkan bahwa dagingnya tidak busuk — mitos ini mungkin berdasarkan pengamatan bahwa daging pelita benar-benar lama dapat disimpan. Pemeluk Kristen awal menggambarkan pelita di katholik dan sarkofag sebagai simbol kehidupan abadi dan kemenangan atas kematian. Pelita juga dihubungkan dengan mata Tuhan yang Mahakuasa: ekornya menyerupai banyak mata, simbol keberlanjutan Tuhan.
Dari sisi lain, pelita dalam Kristen dapat mewakili kebanggaan dan kebanggaan. Kehidupannya yang indah, yang ia nikmati sendiri, menjadi metafora keegoisan yang dosa. Dalam buku hewan abad pertengahan, pelita sering digambarkan sebagai wujud yang menikmati diri, dan ekornya sebagai simbol keberadaan keberadaan yang cepat mengering. Jadi bentuknya berpecah: burung yang sama dapat menjadi simbol kekudusan dan peringatan tentang dosa.
Dalam tradisi Islam, pelita menempati tempat khusus. Menurut legenda, pelita adalah salah satu dari dua burung yang dipasukkan ke Surga. Ekornya yang indah simbol keindahan Surga, dan suara nya adalah lagu untuk Tuhan. Dalam puisi Persia, pelita sering muncul sebagai wujud keindahan yang bangga tetapi rentan, yang dapat dihancurkan. Dalam arsitektur dan kerajinan Islam, pelita sering digambarkan di fresko istana dan keramik, khususnya di Persia dan Empiri Mughal. Tangan pelita, rahasia harta karun para penguasa Mughal, menjadi simbol bukan hanya kekayaan, tetapi juga kelegitimasi kekuasaan dewa.
Kuno Yunani dan Romawi menghubungkan pelita dengan dewi Hera (Juno), yang memilihnya sebagai simbolnya. Menurut mitos, mata Argus, raksasa yang berbanyak mata, terletak di ekor pelita. Saat Argus dibunuh, Hera menempatkan mata nya di ekor pelita sebagai ingatan abadi. Pelita menjadi simbol pengamatan dewa dan penjaga wanita dan perkawinan. Dalam mozaik Romawi, pelita sering digambarkan sebagai tanda kekudusan kekaisaran, dan gambarannya digunakan untuk menghiasi bangunan publik.
Meskipun pelita bukan asli di tanah Slavia, ia masuk ke folklornya melalui cerita dan legenda. Disini, pelita sering dihubungkan dengan Burung Api — wujud api yang mencuri buah emas dan membawa keberkahan. Ekornya dianggap magis, dapat memulihkan dan memprediksi. Dalam lagu rakyat, pelita adalah simbol keindahan wanita dan kebanggaan, dan ekornya (ekor pelita) digunakan sebagai amanat.
Pada abad ke-19, pelita menjadi motif yang populer dalam kerajinan rakyat dan kerajinan rakyat Rusia, khususnya dalam lukisan dan lukisan. Ia simbol keberkahan, kebahagiaan keluarga dan perlindungan dari kejahatan. Khususnya, ia sering digambarkan di lukisan pernikahan.
Pada masa Renaisans dan Barok, pelita menjadi simbol kekayaan sipil. Gambarannya menghiasi istana, kereta, gobelén dan pakaian bangsawan. Ratu dan bangsawan Eropa sering memasukkan ekor pelita ke pakaian mereka, untuk menekankan status dan rasa cenderung yang halus. Pada masa Victoria di Inggris, pelita menjadi motif yang populer dalam kerajinan dan lukisan, dan ekornya yang indah menginspirasi penakar emas dan penjahit.
Pada abad ke-20, minat terhadap pelita tidak menurun, melainkan berubah. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, gambaran pelita mengalami reinkarnasi dalam seni psikodelik dan mode. Ekor pelita digunakan untuk menghiasi rambut, pakaian dan interior. Pada tahun 1990-an dan 2000-an, pelita menjadi motif yang populer untuk tatuasi, simbol individualitas, kebebasan dan estetisme.
Hari ini, pelita digunakan aktif dalam komersil. Gambarannya muncul di kemasan, logo dan kampanye iklan, ketika merk ingin menekankan eksklusivitas, elegan atau hubungan dengan budaya Timur. Contoh yang terkenal adalah stasiun TV NBC, logo (yang disesuaikan pelita) yang simbolis beragam dan keindahan programnya. Dalam industri anggur dan parfum, pelita sering digunakan untuk menekankan status premium produk.
Dalam seni abad ke-20 dan ke-21, pelita muncul sebagai objek ironi dan dekonstruksi. Seniman surrealis dan pop art bermain dengan gambarannya, menempatkannya di konteks yang tak terduga atau menggandaikan elemen yang terpisah. Misalnya, di Sальвадор Дали, pelita muncul di pemandangan surrealis sebagai simbol tidur dan fiksi. Dalam seni fotografi modern, pelita adalah objek yang disukai untuk makrofotografi, di mana ekornya berubah menjadi pola abstrak.
Dalam subkultura, pelita juga menemukan tempatnya. Di budaya homoseksual, ia menjadi salah satu simbol kebebasan ekspresi dan estetisme. Di antara penggemar hewan ekspot, pelita adalah objek kecintaan dan kebanggaan.
Pelita adalah salah satu simbol yang paling berarti dan abadi dalam budaya manusia. Ia menggabungkan langit dan bumi, kehidupan dan kematian, kekudusan dan dosa, kekayaan dan kecenderungan. Ia dapat menjadi ikon perlindungan dewa, peringatan tentang kebanggaan, elemen hiasan, dan objek pemikiran filosofis. Di setiap budaya, ia mendapatkan ciri baru, tetapi selalu tetap simbol tentang keberadaan keindahan dan rahasia yang tak dapat dipisahkan. Dan saat ini, melihat ekor pelita yang terbuka, kami terus mencoba untuk menggali kode budaya kulturalnya — seperti yang dilakukan orang yang berabad-abad lalu.
New publications: |
Popular with readers: |
News from other countries: |
![]() |
Editorial Contacts |
About · News · For Advertisers |
Digital Library of Malaysia ® All rights reserved.
2025-2026, ELIB.MY is a part of Libmonster, international library network (open map) Preserving Malaysia's heritage |
US-Great Britain
Sweden
Serbia
Russia
Belarus
Ukraine
Kazakhstan
Moldova
Tajikistan
Estonia
Russia-2
Belarus-2